...
Home

Ketika Krisis Kelapa Membuat Usaha Kami Hampir Rungkad

Pada pertengahan Agustus 2024, saya dapat pesan WhatsApp dari pemasok kelapa. Kata dia, harga kelapa merangkak naik. Merangkak naik, mungkin saja seperti siklus kelapa biasanya, jadi saya nggak merasa terbebani. Pengalaman 5 tahun menjual minyak kelapa membuat saya mengerti kalau harga komoditas tersebut memang fluktuatif.

Namun, dugaan saya ternyata salah. Beberapa waktu kemudian, kelapa mengalami krisis yang membuat harganya naik tidak wajar. Usaha saya pun hampir punah.

Sialnya, hingga hari ini, meskipun melambat, harga kelapa terus naik tanpa ada hilal akan turun. Esai ini saya tulis bagi sesama pelaku usaha berbasis kelapa yang tengah berjuang. Semoga kita semua dapat bertahan dan bangkit lebih tinggi setelah krisis kelapa ini selesai. 

Posisi Penting Kelapa di Indonesia

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bahas dulu pentingnya kelapa. Jadi, kelapa di Indonesia itu baaanyak banget. Kementan mencatat, pada tahun 2022, luas area perkebunan kelapa mencapai 3,34 Juta Hektare. Di tahun yang sama, Indonesia juga memproduksi kelapa sebesar 2,87 juta ton.

Seperti pasir di laut, saking banyaknya, kita nggak akan sulit menemukan pohon kelapa di Indonesia. Kita bisa menemukannya hampir di setiap daerah, pesisir, perkebunan rakyat, bahkan di pekarangan belakang rumah. 

Namun, sebenarnya apa makna di balik deretan angka di atas bagi kehidupan masyarakat?

Melihat jumlahnya saja, cukup aman kalau menganggap kelapa bukan sekedar komoditas biasa. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan simbol tradisi serta budaya.

Di flores timur, misalnya, terdapat ritual bernama lewak tapo yang menggunakan kelapa sebagai sarana simboliknya. Kelapa dianggap sebagai simbol kepala, pusat dari seluruh aktivitas berpikir manusia. Pada adat kalomba di kajang luar, kelapa melambangkan kesucian dan pengharapan kehidupan yang lebih sejahtera.

Kelapa juga sudah menjadi jantung perputaran ekonomi masyarakat sejak lama. Tumpah ruahnya variasi produk kelapa membuat banyak orang menggantungkan rezeki darinya. Sebut saja warung yang menggunakan santan, pedagang kue, industri minyak, blondo, sampai sabun badan.

Nggak cuma itu, ada juga desa-desa yang ekosistem ekonominya berpusat pada kelapa. Seperti desa pengrajin tali sabut di kebumen atau para pengrajin batok kelapa di Bantul.

Tentu saja nggak berlebihan bila saya menyebut kelapa sebagai pohon kehidupan. Buah yang setiap bagiannya bisa bermanfaat untuk masyarakat. Ia dapat mengangkat status ekonomi seseorang, memperkaya budaya, atau sekedar melepas dahaga di tengah cuaca panas.

Namun, bahkan sang pohon kehidupan pun bisa berbalik merusak, ketika pemerintah gagal mengelolanya.

UMKM dan Industri Besar Mengalami Tantangan Bahkan Kebangkrutan

Belum ada data dari pemerintah terkait jumlah UMKM berbasis kelapa yang bangkrut ketika krisis melanda. Namun, menilik beberapa berita nasional, sudah banyak UMKM yang terkena imbasnya.

Dilansir dari Kompas.com, misalnya, UMKM santan di purwokerto sudah mengalami penurunan omset hingga separuhnya. Bisnis.com juga menyebut para pengrajin arang dan tempurung telah banyak yang bubar.

Beberapa teman saya, penjual blondo hingga minyak kelapa malah rungkat sejak awal krisis melanda. Sebagian cuma mengurangi produksi. Sebagian yang lain bahkan beneran banting setir menjadi penjual dus bekas, es teler, dan sepatu bekas. Prinsip mereka cuma satu: Mengerjakan apapun asal nggak berhubungan dengan kelapa.

Saya sendiri juga meniti profesi baru sebagai pustakawan. Selain menambah penghasilan, sebenarnya saya juga menjadikan profesi baru ini sebagai pelarian. Pelarian melepas penat memikirkan kelapa.

Intinya, kelapa yang tadinya pohon kehidupan, sekarang cuma bikin pengar kepala.

Jangan mengira musibah ini hanya menghantam pengusaha kelapa kecil macam kita. Bahkan PT Sambu Grup pada awal 2025 saja sudah melakukan PHK lebih dari 1000 karyawannya. Beberapa pabrik pengolahan kelapa di kalimantan juga sudah gulung tikar.

Industri sabun yang menggunakan minyak kelapa terpaksa mengganti bahan baku untuk menekan ongkos operasional. Kualitas sabun pun menurun dan pembeli balik badan.

Sekarang ini mencari kelapa, ya ampun, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit sekali. Produksi menurun drastis. Harga kelapa melangit. Omset usaha kembang kempis, bahkan merugi.

Tabungan menguap, nafas terasa sesak. Krisis membuat para pelaku usaha berbasis kelapa berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian.

Sedihnya, beberapa pakar memprediksi harga kelapa baru normal kembali akhir tahun. Terutama menimbang belum adanya solusi konkret dari pemerintah. Bisa dibayangkan betapa pecas ndahe para pelaku usaha berbasis kelapa sekarang ini

Melompat Lebih Tinggi

Menjadi korban dari masalah krisis kelapa ini memang menyiksa. Mimpi buruk terus menghantui isi kepala. Bangun tidur selalu dalam kondisi menggigil ketakutan.

Krisis kelapa membuat kita harus berusaha lebih giat dari sebelumnya. Kita harus aktif mencari konsumen dan supplier baru, mencoba peluang lain, menimba ilmu dan sebagainya.

Saya percaya ini bukan akhir dari segalanya. Semua upaya kita selama krisis kelapa akan terbayarkan. Ia akan menjadi bekal menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Mari saling merangkul dan bercerita satu sama lain. Bertukar dan berbagi kisah merupakan kunci untuk tetap kuat dan waras.

Yakinlah bahwa kita bukan sekedar bertahan. Kita sedang membangun pijakan untuk melompat lebih tinggi dari sebelumnya.

Scroll to Top
Seraphinite AcceleratorOptimized by Seraphinite Accelerator
Turns on site high speed to be attractive for people and search engines.